25 Desember 2008

Pekerjaan bebas intrik


Apaan sich maksudnya? Emang ada ya pekerjaan yang bebas dari "persekongkolan". Kayaknya susah dech nemuinnya. Di bidang hukum, bukan rahasia lagi hukum dinegara kita bisa dibeli. Anda kehilangan mobil? Lapor aja ke polisi! dijamin Anda akan kehilangan lagi uang jutaan rupiah. Udah jatuh ketiban tangga. Terus kenapa pak polisi minta uang ? coba tanya tuch berapa duit harus digelontorkan supaya bisa ketrima jadi korps coklat-coklat itu. Cukup sepuluh juta? Bejibun boss ! yang mau kalo cuman segitu. Instansi Pajak, Bea Cukai, Pemda (bserta jajarannya sampai tingkat kelurahan), PU, Kepolisian,Kejaksaan, Kehakiman paling gampang kalo mau dicari penyimpangannya. Dalihnya bisa macem-macem. Uang kesejahteraan lah, bonuslah, pelicinlah, tetek bengek lah. Memang sich kita gak bisa pukul rata. Masih ada kok "oknum instansi" diatas yang bersih.



Jaman SMA dulu saya punya teman yang tinggal di komplek T123C (Tjijantung 123 Complek), waktu itu bapaknya (Mayor Haskar) jadi komandan dikompleknya. Saya dan temen-temen sekelas, sekali waktu main kerumahnya. Mau masuk komplek kita harus lapor ke pos jaga. Setelah diberi tahu oleh si prajurit itu jadilah saya dan temen-temen, nemuin rumah (dinas)nya. Sebuah bangunan semi permanen, kombinasi tembok setinggi satu meter dan papan yang dicat pakai kapur. Disana-sini terlihat jelas kulit cat yang terkelupas. Lantainya semen yang mengkilat karena sering dipel dan ditidurin.


Persis didepan rumah teman saya tinggal satu keluarga dengan 2 orang anak. Anak pertama nya seumur dengan kami. Bapaknya berpangkat kopral satu. Terdengar jelas suara soundsystem mengglegar dari mobil Jimny warna merah yang diparkir didepan rumahnya. Dan Anda tahu, Mayor Haskar cuma bisa ngebeliin teman saya motor Kawazaki Binter AR125 (warna merah juga). Anda bebas mengambil kesimpulan dari cerita ini.


Sebagai manusia kita harus berbaik sangka. Saya berbaik sangka kepada Mayor Haskar yang bersih itu. Dia tidak menggunakan jabatannya, pangkatnya, kewenangannya untuk mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Banyak orang lupa diri, yang penting rejeki berlimpah. Persetan dengan cara meraihnya. Dibilang KKN lah, gak halal lah, bodo amat. Toch nantinya kalau harta sudah berlimpah orang-orang sekeliling akan hormat dan kagum pada kita. Sambil bilang, Liat tuch si Pulan meski dari desa dia pinter dan jago cari duit. Rumahnya magrong-magrong, mobilnya kinclong-kinclong. Masalah itu dari hasil KKN atau apapun, Bodo amat! gak peduli. Emang gue pikirin!


Sebaliknya orang-orang yang pada jago berintrik ria itu, akan bilang begini; Ach dasar aja elo-elo pade ngiri. Iri tanda tak mampu. Makanya sekolah yang pada pinter, ngomong yang pada pinter, lobi-lobi yang pada pinter. Kalo kita gak kasih entertain ke tokoh-tokoh kunci pengambil keputusan mana bisa proyek kita dapetin. Inget ya ITTM (Iri Tanda Tak Mampu)!


Teman saya Faizal Indomobil skali waktu pernah ngeledek ketika saya berjualan di kantor. Faizal bilang "eh...rip elo jangan-jangan kalo hari minggu...nyerpis jam ditoko elo ..pake cekana kolor, kaos singlet..terus dimatanya menclok itutuh kaca pembesar buat serpis jam yang ditancepin ke salah satu mata..pantes banget..".. terus saya dengan ketawa ngejawab..."...Sal..Sal....saya bgini cuman ngekutin apa yang Nabi lakukan dalam mencari nafkah. Tao kenapa Nabi gak jadi Accountant ..ntar jadinya ngutak-atik angka buat "kewajaran" penyajian laporan keuangan. Di Akunting yang dinilai emang cuman kewajarannya kok bukan kebenarannya. Nabi kita adalah Pedagang, bukan Dokter, Insinyur, Accountan, Polisi, Jaksa, Hakim, Petugas Pajak, Petugas Bea Cukai. Itu knapa pekerjaan yang disorot berulangkali di AlQur'an adalah Pedagang. Si Faisal langsung diem, manggut-manggut...sambil bibirnya nyengir...


Jadi pedagang..selain rambu-rambunya jelas (karena ada di kitab suci).. Resiko berKKN juga kecil. Orang beli kalau memang setuju dengan barang dan harga yang kita tawarkan. Cara ngejualnya juga gak perlu tender-tender. Gak perlu lobi-lobi, mark up harga, kasih pelicin, ujung-ujungnya KKN... Percuma khan ikutan teriak Anti KKN, sementara dalam mencari nafkah terus bergelimang dengan intrik dan KKN. Makanya.. jadi pedagang...hehehe








2 komentar:

Urip SR mengatakan...

Berkunjung..cari inspirasi disini...!!
Sangat setuju apa yang tertulis, ada hikmahnya Mas
Salam Blogger...

Urip SR mengatakan...

Salam kenal Mas...